Secara umum ada tiga tanda kardinal lepra yaitu ada bercak putih pada badan, gangguan sensibilitas atau mati rasa pada bercak tersebut dan adanya pembesaran saraf. Diagnosis ditetapkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium dan histopatologis.
Namun gejala klinik yang muncul dapat bervariasi tipe dan bentuknya dari ringan sampai berat. Ridley dan Jopling membagi lepra dalam berbagai bentuk, yaitu: TT, BT, BB, BL, LL. Pembagian tersebut berdasarkan berat ringannya penyakit. Sedangkan untuk kepentingan pengobatan WHO membagi lepra dalam 2 klasifikasi yaitu multibasilar (MB) dan pausibasilar (PB).
Saudara Kasiono bila anda telah dinyatakan menderita lepra tidak usah kuatir, karena lepra dapat diobati dan disembuhkan. Obat lepra dapat anda peroleh dipuskesmas dengan gratis, berupa obat paket untuk lepra, pengobatan berkisar 6 bulan sampai 1 tahun tergantung beratnya penyakit anda.
Namun selama dalam masa pengobatan ada hal penting yang harus anda waspadai yaitu timbulnya reaksi. Kecacatan pada lepra biasanya terjadi akibat reaksi yang tidak ditangani dengan baik.
Keluhan anda berupa benjol-benjol kemerahan demam dan nyeri pada badan merupakan reaksi yang biasa timbul pada penderita lepra. Selama masa pengobatan maupun setelah pengobatan gejala ini dapat muncul.
Pada penyakit lepra yang berbahaya sebenarnya adalah reaksi yang muncul selama perjalanan penyakit ini, yang dikenal sebagai reaksi tipe I dan reaksi tipe II atau dikenal sebagai reaksi eritema nodusum leprosum (ENL).
Reaksi lepra berupa proses peradangan yang khas, merusak jaringan, dan meningkatkan morbiditas. Reaksi ini menggambarkan episode hipersensitivitas akut terhadap antigen basil yang menimbulkan gangguan keseimbangan imunitas yang telah ada.
Gejala klinis pada reaksi tipe I berupa ditandai pembengkakan dan timbul warna kemerahan pada lesi secara mendadak dan timbulnya lesi baru dengan pembengkakan dan kemerahan pada kulit normal. Lesi jarang soliter, kadang sangat banyak.
Penderita merasa nyeri/neuritis pada area yang membengkak disertai demam tinggi. Neuritis berkisar dari ringan hingga berat, potensial membahayakan terutama jika melibatkan banyak saraf. Reaksi ini paling sering terjadi dalam tahun pertama pengobatan.
Pada reaksi lepra tipe 1, antigen yang berasal dari basil yang telah mati akan bereaksi dengan limfosit T disertai perubahan sistem imunitas seluler yang cepat. Sebagai hasil reaksi tersebut dapat terjadi upgrading/reversal apabila terjadi peningkatan sistem imunitas seluler menuju ke arah bentuk tuberkuloid, atau downgrading apabila terjadi penurunan sistem imunitas seluler menuju ke arah bentuk lepra yang lebih berat atau tipe LL.
Reaksi tipe 2 atau eritema nodosum leprosum (ENL) terjadi akibat antigen yang berasal dari produk kuman yang telah mati dan bereaksi dengan antibodi membentuk kompleks Ag-Ab, yang akan mengaktivasi komplemen.
Reaksi tipe 2 biasanya disertai gejala sistemik biasanya terjadi setelah 6 bulan pertama pengobatan. Gejala klinik berupa benjol-benjol / nodul multipel pada kulit berwarna kemerahan dan terasa nyeri disertai rasa nyeri dan demam tinggi, kadang disertai nyeri sendi dan limfedenitis/ pembengkakan dan nyeri kelenjar getah bening.
Bila selama pengobatan tersebut muncul reaksi seperti diatas obat lepra tetap diteruskan dan diberikan obat lain untuk mengobati reaksi tersebut. Prinsip pengobatan reaksi lepra yaitu: pemberian obat antireaksi, istirahat atau imobilisasi, analgetik atau sedatif untuk mengatasi rasa nyeri, diet makanan bergizi dan pemberian vitamin.